IndoPetroNews

Headlines News :
Home » , , » Pengamat : Ada Dugaan Aroma Kongkalikong di Balik Impor BBM Rosneft Rusia

Pengamat : Ada Dugaan Aroma Kongkalikong di Balik Impor BBM Rosneft Rusia

Written By Indopetro portal on Monday, 8 August 2016 | 12:37

indoPetronews.com - Kerjasama Pertamina dengan Rosneft Oil Company, perusahaan BUMN di Rusia, menuai kritik tajam. Sebab mulanya, kerja sama tersebut akan fokus pada pembangunan kilang minyak, penawaran daerah kerja ekplorasi minyak dan gas bumi (migas) di negeri Beruang Putih. Dan tidak ada cerita mengimpor BBM premium.

Karena itu, lumrah bila timbul dugaan adanya kongkalikong di balik penyediaan premium tersebut. Berdasarkan keterangan Pertamina, kargo premium dari Rusia dikirim dengan skema Free on Board (FoB) ke Tanjung Langsat, Malaysia. Sedangkan kabar yang tersiar, kawasan Tanjung Langsat diduga kuat adalah terminal blending Premium RON 88 milik Trafigura, perusahaan trader migas asal Singapura.

“Jangan-jangan, Rosneft hanya membeli saja dari Tanjung Langsat. Atau bisa jadi hanya dipakai dengan sewa benderanya saja kemudian dikirim ke Indonesia. Dengan kata lain, diduga Rosneft hanya berperan sebagai makelar saja,” kata Direktur Eksekutif Direktur Eksekutif Center of Energy and Resources Indonesia (CERI) Yusri Usman kepada indoPetroNews.com Senin (8/8/2016) di Jakarta.

Lagipula, lanjut Yusri, agak mustahil rasanya kalau hanya membawa 200 ribu barel dari Rusia. “Itu terlalu sedikit sehingga kurang ekonomis. Walaupun ini hanya dugaan, Pertamina sebaiknya membuka saja apa yang terjadi sebenarnya. Apakah Pertamina nanti bersedia membuka dokumen Bill of Loading (BL) pengirimannya? Di BL itu nanti akan jelas terlihat sumber barangnya darimana dan sebagainya akan terungkap jelas,” ungkap pria yang pernah menjadi konsultan Trafigura ini.

Terkait persoalan tersebut apakah betul Tanjung Langsat adalah milik Trafigura, VP Corporate Communication Pertamina, Wianda Pusponegoro menjawab diplomatis. “Pertamina berhubungan bisnis dengan Rosneft sebagai mitra usaha dengan kontrak menerima Mogas 88. Fasilitas dan lain sebagainya adalah domain dari Rosneft sebagai seller. Yang utama bagi kami adalalah spesifikasi produk sesuai kebutuhan BBM Indonesia dengan kualitas terbaik serta harga yang paling kompetitif dan saat ini Pertamina mengimport Mogas 88 sebanyak 7 juta barrel per bulannya,” papar Wianda.

Padahal menurut penelusuran Yusri, Direksi Pertamina, baik Ahmad Bambang dan Rahmad Hardady, menyatakan bahwa dengan berfungsi kilang RFCC 2 Cicalap dan kilang TPPI Tuban ada tambahan pasokan Premium sebanyak 91.000 barrel perhari. “Kita sudah bisa mengurangi import Premium sebesar 30% sampai dengan 42% dan kita masih mengimport hanya 5 juta barel perbulan,” kata Yusri, mengutip data yang diungkapkan Ahmad Bambang dan Rahmad Hardady.

Tentu publik bingung atas perbedaan keterangan antara Direksi Pertamina dengan Wianda sebagai juru bicara Pertamina. “Mana yang benar angka impot ini? Ahmad Bambang bilang, 5 juta barrel. Tapi Wianda dalam rilis pada 6 Agustus 2016 menyatakan sebesar 7 juta barrel. Jadi semakin heran dan bingung kita,” cetus Yusri.

Lebih jauh alumnus Geologi Universitas Gajah Mada (UGM) ini mensinyalir ada patgulipat di balik impor premium Rosneft. Yusri mengaitkan kecurigaannya karena sejak 1 Agustus 2016, Pertamina telah mengubah mode produksi BBM di kilang TPPI dari mode premium sebesar 60.000 barrel perhari menjadi pertamax 40 - 50.000 barrel perhari . “Pertanyaannya, apa alasan Pertamina mengubah mode itu? Lantas dibawa kemana ekses naphta dari Kilang Cilacap yang selama ini digunakan sebagai bahan baku blending untuk produk Premium Ron 88,” tandas Yusri.

Menurut dia, di dunia hanya Indonesia yang masih menggunakan Premium Ron 88. Di luar negeri, katanya, jarang ada kilang memproduksi mogas Ron 88, kecuali diproses blending antara komposisi HOMC 92 (80 %) dengan Light Naphta (20 %) atas permintaan Pertamina, seperti dilakukan di fasilitas blending di Tanjung Langsat, Johor, Malaysia.

Menurut Yusri, hal ini sangat penting diluruskan agar publik jangan sampai menduga kebijakan mengubah mode tersebut hanyalah akal-akalan untuk mengakomadasi impor premium Rosneft. Apalagi, Wapres Jusuf Kalla saat berkunjung ke TPPI pada November 2015, memuji banyaknya keuntungan yang akan diperoleh Pertamina.

“Jangan sampai Pertamina mengubah kebijakannya karena intervensi orang-orang kuat di belakang Rosneft yang tentu saja bisa merusak apa ‘prestasi efisiensi’ pengadaan BBM yang dicapai Pertamina. Makanya harus jujur menjelaskan kepada publik untuk menghindari persepsi negatif terhadap proses bisnis di Pertamina,” tegas Yusri, sembari berharap upaya membangun kilang oleh Rosneft hanya angin sorga saja sebagai modus untuk meraih bisnis lainnya di Pertamina. (Sofyan)
Share this post :
Comments
0 Comments

Post a Comment

www.indopetronews.com

 
Support : Web Master | Indokarmed | Web Hosting
Copyright © 2013. indoPetroNews - All Rights Reserved
Web Design Web Master Published Media Patner by Jurnalis Rakyat
Proudly powered by Portal Login