IndoPetroNews

Headlines News :
Home » , , , » Dari Hulu, Harga Gas Sudah Mahal

Dari Hulu, Harga Gas Sudah Mahal

Written By Indopetro portal on Monday, 19 September 2016 | 09:01

indoPetroNews- Terbitnya izin niaga gas bumi yang mempunyai fasilitas dan tidak berfasilitas oleh Direktur Jenderal (Dirjen) minyak dan gas bumi (Migas) ditengarai sebagai pangkal timbulnnya pihak penambah rente. Namun yang dikambinghitamkan sebagai pemicu merangkaknya harga jual gas adalah para trader.

“Kehadiran BUMD (Badan Usaha Milik Daerah)/trader gas adalah legal secara hukum paska Undang-Undang Migas. Dalam perjalanannya (karena UU Migas belum direvisi) dan seiring dikeluarkannya izin niaga berfasilitas dan tidak berfasilitas oleh Dirjen Migas, maka dari situlah pangkal asal-muasal munculnya yang disebut penambah rente,” kata Dirut PT Gresik Gas, BUMD Kabupaten Gresik, Bukhari, Minggu (18/9/2016) di Jakarta.

Menurutnya, volume gas yang diperdagangkan oleh trader memang relatif tidak terlalu banyak bila dibandingkan dengan gas yang dikelola oleh BUMN besar, yaitu Perusahaan Gas Negara (PGN) dan Pertamina. Namun persoalannya, lanjut Bukhori, pada saat isu ini muncul, digunakan satu kasus, yang dengan volume gas yang tidak banyak, tetapi selalu digaung-gaungkan seakan-akan persoalannya ada di situ.

“Jujur saya katakan, struktur harga gas saat ini, sedari awal memang, sejak kita berhubungan dengan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (Kontraktor KKS) di hulu, hingga saat ini, harga berada di US$8 per MMBTU (million british thermal unit) di wheel heat. Mungkin ada di bawah US$6 per MMBTU atau US$5,5 per MMBTU. Tapi dengan volume kecil, di lapangan-lapangan marginal sehingga tidak masuk ke dalam sistem. Untuk yang terhubung dengan sistem harganya sudah mencapai US$8 per MMBTU. Ini kasus Jawa Timur dan Jawa Barat,” papar Bukhari, sembari membandingkan harga gas di Singapura, yang hanya US$5 - US$6 per MMBTU.

Dia juga mengakui antara sumber gas dengan market berada dalam jarak lokasi yang berbeda. “Di Sumatera Utara harga gas mencapai US$10 per MMBTU. Dan ini rasional karena harga belinya sudah US$8 per MMBTU, ditambah dengan toll fee dan regafikasi dan lain semacamnya,” ucap anggota Asosiasi Perusahaan Niaga Gas Bumi ini. Karena itu, ungkap Bukhari, tidak masuk akal bila dikatakan bahwa mahalnya harga gas karena keberadaan dari para trader gas. (Sofyan)
Share this post :
Comments
0 Comments

Post a Comment

www.indopetronews.com

 
Support : Web Master | Indokarmed | Web Hosting
Copyright © 2013. indoPetroNews - All Rights Reserved
Web Design Web Master Published Media Patner by Jurnalis Rakyat
Proudly powered by Portal Login