IndoPetroNews

Headlines News :
Home » , , , , » eSpeKape Minta Direksi Pertamina Klarifikasi Gagalnya Akuisisi Blok West Qurna 2 di Irak

eSpeKape Minta Direksi Pertamina Klarifikasi Gagalnya Akuisisi Blok West Qurna 2 di Irak

Written By Indopetro portal on Monday, 5 September 2016 | 22:06

indoPetroNews- Solidaritas Karyawan Pensiunan Pertamina (eSpeKape) merasa heran dengan kebijakan Direksi Pertamina yang telah memutuskan melakukan akuisisi saham milik Jean Francois Hanin atas nama perusahaan Pasifico yang memiliki saham 24,53 % di holding Maurel & Proum (P & M) Perancis, dan memiliki aset blok migas di berbagai negara dengan total cadangan terbukti hanya sekitar 250 juta barel dan produksinya hanya sekitar 29.000 barel ekuivalen per hari (BOEPD), yang terdiri dari hasil negara Gabon, Tanzania dan Nigeria.

Hal tersebut diungkapkan oleh Ketua Umum eSpeKape Binsar Efendy Hutabarat. Keheranan dan kekagetan Binsar Effendi dipicu oleh rilis Direksi Pertamina pada 30 Agustus 2016, yang telah menandatangani kerja sama penggunaan kilang Shell Singapore untuk mengolah minyak mentah milik Pertamina dari sumur West Qurna 1 Irak sebanyak 1 juta barel per bulan dengan skema Crude Processing Deal (CPD) dapat penghematan 15 %. "Bahkan secara terselubung Pertamina mengakui kehandalan kilangnya masih jauh dibawah kilang Singapore dan kilang Pertamina sudah tidak efisien serta program upgrading kilang masih sebatas wacana," kata Binsar Efendy Hutabarat kepada indoPetroNews.com Senin sore (5/9/2016) di Jakarta.

Dia menuturkan, sebelumnya pada 26 Agustus 2016, Direksi Pertamina sudah lebih dulu merilis berita telah mengakuisisi 24 , 53 % saham dengan nilai 201,2 juta Euro setara Rp 29, 9 triliun. Pihak direksi akan menyiapkan sekitar 220 juta Euro setara Rp 32, 5 triliun untuk 2 bulan mendatang agar bisa mengakuisisi sahamnya lagi sekitar 27% untuk menjadi pemilik saham mayoritas dan bisa mengendalikan asetnya.

Berdasarkan kedua informasi tersebut, ungkap Binsar Efendy, telah memancing kecurigaan publik bahwa transaksi yang dilakukan terhadap perusahan M & P oleh Pertamina penuh dugaan pat gulipat.

"Karena disamping harganya sangat mahal, ternyata tidak membeli aset dan faktanya asetnya juga terletak berjauhan di 3 negara dengan volume produksinya hanya ada yang dibawah 29.000 barel equivalen perharinya (BOEPD), tentu memancing kecurigaan dan menimbulkan pertanyaan besar," tandasnya.

Padahal prospek itu, lanjut Binsar Efendy, sudah pernah ditawarkan kepada Direksi Pertamina yang lama pada 2013 dan berdasarkan kajiannya tidak layak untuk ditindak lanjuti. "Bahkan pada saat sebelum dieksekusi oleh Direksi Pertamina yang baru ini, konon, salah satu komisaris Pertamina tidak setuju atas nilai persaham 4,2 Euro. Alasannya karena faktanya harga riilnya jauh dibawah itu. Bahkan pernah disuspen sahamnya pada Juli 2016 oleh Otoritas Bursa Saham di Perancis," papar Binsar Efendy.

Menurut Binsar Efendy, kalau hanya produksinya segitu dan harga beli sahamnya sangat fantastis, kenapa tidak Pertamina berhemat dan fokus mengambil blok migas di dalam negeri yang kontrak PSC nya akan berakhir dalam 2017 dan 2018. Selain murah, lanjut Binsar Efendy, produksinya juga masih lebih baik dari membeli saham milik M & P Perancis.

"Jika Pertamina jadi mengakuisisi 30 persen saham dari LukOil di West Qurna 2, sebenarnya Pertamina memiliki 'jatah' minyak dari Blok West Qurna 2 sebanyak sekitar 101.250 barel perhari (bph). Pada 2019, Blok West Qurna 2 ditarget bisa meningkatkan produksi minyaknya ekuivalen hingga 1,2 juta bph. Itu berarti untuk tiga tahun ke depan, jika tidak batal mengakuisi, Pertamina punya ‘jatah’ minyak di Blok West Qurna 2 sebanyak 270 ribu bph. Diperkirakan cadangan minyak di Blok West Qurna 2 total mencapai 13 miliar barel, yang dihasilkan dari dua formasi utama, yakni Mishrif dan Yamama. Blok West Qurna Barat 2 adalah salah satu ladang minyak terbesar nomor dua di dunia setelah Blok Ghawar di Saudi Arabia," ungkap Binsar Efendy.

Berdasarkan informasi yang dihimpun oleh eSPeKaPe, imbuh Binsar Efendy, jika Pertamina jadi mengakuisisi Blok West Qurna 2, konon hanya perlu mengucurkan dana sekitar US$ 1,2 miliar atau sekitar Rp. 15,8 triliun, dengan asumsi harga minyak saat itu US$ 70 per barel. Saat ini, rata-rata produksi minyak ekuivalen di Blok West Qurna 2 berkisar 450 ribu bph. Sehingga dengan harga minyak saat ini rata-rata di bawah US$45 perbarel, Pertamina hanya butuh sekitar US$ 1 miliar setara Rp13 , 2 triliun untuk mengakuisisinya.

“Sekarang kalau untuk mengambil 24,5 % sahamnya saja, Pertamina sudah merogoh koceknya sebesar Rp. 29, 7 triliun. Maka untuk mengambil saham berikutnya tentu Pertamina harus siap-siap merogoh koceknya lagi sekitar Rp 32, 5 triliun, agar bisa mengontrol mayoritas di Holding M&P,” ucap Binsar Efendy.

"Pertanyaannya yang amat pantas dialamatkan kepada Direksi Pertamina adalah apakah untung mengakuisisi 24,5 persen saham M&P dengan jatah minyak hanya 7.137 bph dibandingkan dengan mengakuisisi 30 persen saham LukOil yang bisa membawa minyak hingga 101.250 bph? Padahal ada perbedaan 14 kali lipat minyak jatah Pertamina antara di perusahaan M&P dengan di West Qurna 2 Irak," kata Binsar Efendy.

Belum lagi, lanjutnya, jika ditinjau perbedaan volume produksi aset milik perusahaan M&P hanya sekitar dibawah 30 ribu bph terletak di 3 negara dibanding aset Blok West Qurna 2 itu yang letaknya bersebelahan dengan Blok West Qurna 1 yang sudah dimiliki sahamnya 10 persen oleh Pertamina EP Irak.

Faktanya, menurut Binsar Effendi lagi, yang juga Ketua FKB KAPPI Angkatan 1966, jika saja Pertamina jadi mengakuisisi Blok West Qurna 2, maka hanya perlu mengeluarkan dana Rp 15,8 triliun, itu pun dengan asumsi harga minyak saat itu US$ 70 per barel. “Bagaimana kalau Pertamina serius bernegosiasi dengan LukOil di saat harga minyak rata-rata dibawah US$ 45 perbarel, tentu diperkirakan didapat harga indikasi disekitar US$ 1 miliar atau setara Rp. 13, 2 triliun saja,” ujarnya.

Padahal, kata Binsar Efendy, agenda yang selalu saja diucapkan Pertamina langkah akuisisi aset blok migas di luar negeri adalah untuk menjaga ketahanan energi di Indonesia. Namun dengan melihat cadangan terbukti dan produksi hariannya dan terletak di 3 negara berjauhan. "Pertanyaan sederhananya, apa bisa Pertamina menjelaskan ke publik soal perencanaan lifting minyaknya dari hasil pembelian saham di holding M & P asal Perancis itu? Pertanyaan berikutnya, kalau produksi minyak itu kebutuhan kilang Pertamina, bisa dilakukan berapa kali dalam setahun dengan menggunakan kapal tankers VLCC supaya efisien," gugat Binsar Efendy.

"Dan, apa pula alasan Direksi Pertamina lebih serius mengakuisisi perusahaan holding M&P asal Prancis itu daripada mengakuisisi saham milik LukOil di Blok West Qurna 2 Irak dengan produksi dan cadangannya cukup fantastis setara lapangan Cevron Riau pada puncak produksinya pada 1990 hingga 2000-an, ketimbang produksi dan cadangan milik perusahaan M & P hanya sekitar dibawah 29.00 ribu bph dan itu pun terletak di 3 negara di Afrika yang letaknya berjauhan itu?

“Kami, Pensiunan Pertamina, guna menghindari adanya kegaduhan di ruang publik atas hilangnya peluang akusisi di Blok West Qurna 2 oleh Direksi Pertamina. Pertamina sudah banyak mengeluarkan dana untuk tim teknisnya sejak Febuari 2015 dan telah juga membayar audit finansial oleh konsultan PricewaterhouseCoopers Indonesia Advisory yang hasilnya positif. Direksi Pertamina seharusnya bisa menyampaikan klarifikasinya ke ruang publik,” tegas Binsar Efendy. (Sofyan)





Share this post :
Comments
0 Comments

Post a Comment

www.indopetronews.com

 
Support : Web Master | Indokarmed | Web Hosting
Copyright © 2013. indoPetroNews - All Rights Reserved
Web Design Web Master Published Media Patner by Jurnalis Rakyat
Proudly powered by Portal Login