IndoPetroNews

Headlines News :
Home » , , , , , , » KPK & BPK Selayaknya Pro Aktif Selidiki Dugaan Mark Up Kontrak Pembangunan Kapal Small Vessel Pertamina

KPK & BPK Selayaknya Pro Aktif Selidiki Dugaan Mark Up Kontrak Pembangunan Kapal Small Vessel Pertamina

Written By Indopetro portal on Wednesday, 14 September 2016 | 16:21

indoPetroNews- Komisi Pemberantasn Korupsi (KPK) dan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) sejatinya pro aktif untuk menyidik kasus dugaan mark up terhadap kontrak pembangunan kapal (Ship Building Contract) small vessel untuk keperluan Pertamina Trans Kontinental (PTK). Apalagi, ditemukan fakta bahwa PT Tri Ratna Diesel (TRD), pemenang tender dengan nilai kontrak USD 5.500.000, adalah perusahaan pembuat mesin diesel untuk pertanian, bukan perusahaan galangan yang berpengalaman membuat kapal.

“Peristiwa yang terjadi pada 2013 silam tersebut sangat masuk akal. Karena TRD bukan perusahaan galangan. Ada juga informasi yang menyebut harga kapal tidak semahal itu, masih di kisaran sepertiga dari harga USD5.500.000. Dengan kata lain, harga TRD telah di mark up. Penegak hukum diharapkan segera bekerja agar lebih terang benderang,” kata Direktur Eksekutif Direktur Eksekutif Center of Energy and Resources Indonesia (CERI) Yusri Usman kepada indoPetroNews.com, Rabu (14/9/2016) di Jakarta. Bahkan, TRD juga terlambat membangun kapal alias melewati delivery time yang dijanjikan.

Lebih jauh Yusri meminta KPK dan BPK mengaudit proyek ini. “Publik ingin mengetahui yang sebenarnya. Dari nilai dalam lelang saja, TRD masih pemenang kedua, kok bisa diajukan untuk proyek ini?” tegas Yusri.

Sebelumnya, dua buah surat berkop Pertamina Trans Kontinental beredar di kalangan wartawan, Jumat (9/9/2016). Sebenarnya, tidak ada yang istimewa dengan surat tersebut, hanya sebuah risalah rapat tentang pembangunan kapal (Ship Building Contract) small vessel untuk keperluan Pertamina Trans Kontinental (PTK). Surat pertama tertanggal 27 November 2013, sementara yang kedua 18 Desember 2013.

Namun, surat tersebut menjadi istimewa karena ditemukan adanya indikasi mark up pada kontrak tersebut. Pasalnya, TRD yang akhirnya ditunjuk sebagai pemenang tidak lebih hanyalah sebuah perusahaan pembuat mesin diesel untuk pertanian, bukan perusahaan galangan yang berpengalaman membuat kapal.

Padahal, rekomendasi dari tim pengadaan kapal adalah perusahaan lain yakni Tesco, dengan pertimbangan Tesco mempunyai total score lebih tinggi ketimbang TRD. Tesco dinilai lebih unggul dari aspek delivery time maupun teknis. Sehingga, pada rapat 27 November 2013, Tesco dinyatakan memperoleh skor paling tinggi.

Adapun rapat tersebut dihadiri Ahmad Bambang, saat itu menjabat Direktur PTK, dan sejumlah pihak terkait. Saat ini, Ahmad Bambang telah menjabat sebagai Direktur Pemasaran dan Niaga PT Pertamina (Persero)

Akan tetapi, pada rapat 18 Desember 2013, skor TRD diduga kuat telah didongkrak lantaran memiliki skor paling tinggi untuk delivery time. Namun, berdasarkan pendapat ahli yang dikonfirmasi BPK, delivery time yang disodorkan TRD tersebut tidak logis, apalagi dengan status TRD yang bukan perusahaan galangan.

Sementara itu, VP Coporate Communication Pertamina, Wianda Pusponegoro, tidak memberikan respon saat dimintai komentarnya terkait persoalan tersebut. Ia malah meminta salah satu stafnya, Rudi Affianto, untuk menjawab. "Silahkan email tim saya, Rudi," kata Wianda, Jumat (9/9/2016) di Jakarta.

Setali tiga uang dengan Wianda, Rudi juga tidak memberikan komentar setelah dihubungi, Sabtu (10/9/2016).

Sementara itu Direktur Center for Budget Analysis (CBA), Uchok Sky Khadafi Center for Budget Analysis (CBA) mencium adanya dugaan penyimpangan sejak mulai awal proses tender. "Proyek tersebut telah menunjukkan kejanggalan. Dari 3 perserta bidder diketahui PT Tri Ratna Diesel Indonesia hanya menempati peringkat kedua. Namun anehnya direksi PTK malah menunjuk PT Tri Ratna Diesel sebagai pemenang," tandas Uchok.

“Saya melihat agak aneh dari hasil keputusan rapat rencana pembangunan small marine vessels proyek DSLNG (Donggi Senoro Liquefied Natural Gas). Dimana direksi menetapkan PT Tri Ratna Diesel Indonesia menjadi pemenang untuk pembangunan small marine vessel,” lanjut k
Uchok.

Uchok meminta agar Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI agar melakukan audit dan meneruskan kasus tersebut ke penegak hukum. Para penyelenggara harus bertanggung jawab dan mengembalikan potensi kerugian negara. (Sofyan)
Share this post :
Comments
0 Comments

Post a Comment

www.indopetronews.com

 
Support : Web Master | Indokarmed | Web Hosting
Copyright © 2013. indoPetroNews - All Rights Reserved
Web Design Web Master Published Media Patner by Jurnalis Rakyat
Proudly powered by Portal Login