IndoPetroNews

Headlines News :
Home » , , , » Pengamat: Indonesia Alami Darurat Migas

Pengamat: Indonesia Alami Darurat Migas

Written By Indopetro portal on Friday, 2 September 2016 | 14:10

indoPetroNews- Saat ini Indonesia berada dalam kondisi darurat migas. Pasalnya, 2/3 (dua pertiga) konsumsi nasional defisit atau diimpor.

“Tanpa impor Indonesia bisa bertahan hanya 2 - 3 minggu saja. Indonesia defisit minyak 1,2 juta bbl/hari pada 2016. Dan menyedot ratusan triliun rupiah untuk pengadaannya. Dari konsumsi 1,6jt bbl/day, Indonesia berhak hanya 50%: 400bbl/day, dari 800bbl/day total produksi. Turun 50% sejak akhir 1990an,” kata Direktur Eksekutif Entrepreneurial State Institute of Research, Effendi Siradjuddin kepada indoPetroNews.com Jumat (2/9/2016) di Jakarta.

Bahkan pada 2030 diperkirakan defisit mencapai 2.6juta bbl/hari bila diversifikasi ke energi gas, coal, geothermal, nuklir, mikrohidro, angin, solar dan lain sebagainya gagal. Disisi lain, kata Siradjuddin, banyak blok/lapangan dan sumur-sumur terbengkalai.

Lalu, apa yang harus dilakukan? “Indonesia memiliki potensi besar karena ada sekitar 100-an lapangan Pertamina menganggur dengan sekitar 13.000 sumur tua di dalamnya, PT Pertamina memproduksikan sekitar 400 lapangan produksi. Kita memiliki 22 kontrak yang telah berakhir namun statusnya tidak jelas (seyogyanya 5 - 10 tahun status kontrak harus jelas agar investasi tetap berjalan dan produksi bisa dipertahankan),” papar Siradjuddin. Di samping itu, katanya, terdapat 2/3 kontrak tahap eksplorasi praktis terbengkalai.

“Disisi lain tenaga ahli minyak melimpah ruah, sebagian lari keluar negeri karena prospek lebih baik, National efficienscy buruk,” tegas Siradjuddin. Sebab iklim investasi dan national leadership di masa lalu buruk.

Dia juga memaparkan bahwa dari sekitar 297 blok pada Mei 2016 terdapat 85 blok (1/3 bagian) berstatus eksploitasi (67 blok produksi dengan 800rb bbl/hari dan 18 blok pengembangan); 113 blok (1/3 bagian) eksplorasi aktif (2 blok discovered dengan status POD (Plan of Development) siap berproduksi, 26 blok sudah dibor, discovered juga siap bor pengembangan dan produksi.

“Sebanyak 13 blok sudah bor dan undiscovered, 28 blok seismik survey & tested, 40 blok dalam studi G&G (Geologi & Geofisika), 4 blok tidak ada aktivitas; 1/3 bagian terakhir adalah eksplorasi, praktis non aktif sebanyak 97 blok. Kedepan seyogyanya 18 lapangan pengembangan (tahap eksploitasi) dan 50% blok eksplorasi atau 100 blok sudah berproduksi,” papar Siradjuddin. (Sofyan)
Share this post :
Comments
0 Comments

Post a Comment

www.indopetronews.com

 
Support : Web Master | Indokarmed | Web Hosting
Copyright © 2013. indoPetroNews - All Rights Reserved
Web Design Web Master Published Media Patner by Jurnalis Rakyat
Proudly powered by Portal Login