IndoPetroNews

Headlines News :
Home » , , , » Terungkap Minyak Bodong Glencore ke Pertamina, Siapa Bakal jadi Kambing Hitam?

Terungkap Minyak Bodong Glencore ke Pertamina, Siapa Bakal jadi Kambing Hitam?

Written By Indopetro portal on Wednesday, 28 September 2016 | 09:14

indoPetroNews- Suplai minyak bodong dari Glencore kepada PT Pertamina (Persero) kian menghebohkan. Betapa tidak, komposisi minyak mentah yang dipesan jauh melenceng dari spesifikasi seperti tertuang dalam kontrak.

Seperti diketahui, minyak mentah tersebut rencananya akan dipasok sebanyak 4 kargo untuk memenuhi kebutuhan kilang Pertamina. Yakni, minyak mentah “aseng” sebanyak 600 ribu barel untuk kilang Balongan, dan minyak 600 ribu barel Bonny Light untuk kilang Balikpapan.

Namun faktanya, minyak yang didatangkan adalah minyak oplosan Sarir dengan Mesla sebanyak 1.2 juta barel dengan komposisi terbalik yang perbandingan seharusnya 70% Sarir dan 30% Mesla.

“Anehnya, ISC Pertamina baru menolak saat kedua kapal tanker MT Takiki dan MT Stavenger Blossom yang membawa minyak tersebut sudah merapat di pelabuhan di Dumai dan Balikpapan sekitar tanggal 19 September 2016,” kata Direktur Eksekutif Center of Energy and Resources Indonesia (CERI), Yusri Usman kepada indoPetroNews.com Rabu (28/9/2016) di Jakarta.

Padahal, lanjut Yusri, kalau merujuk notifikasi "Bill of Lading " yang lebih awal diterima oleh ISC , seharusnya sejak awal sebelum kapal bergerak dari Libya sudah bisa diperintahkan oleh ISC untuk dibatalkan, dan tidak merugikan ISC Pertamina dengan mencari minyak mentah pengganti di pasar bebas dan bisa lebih mahal sekitar USD 1 per barel.

“Diduga dengan komposisi yang terbalik antara minyak Sarir dengan minyak Mesla ada potensi selisih harganya sekitar USD 10 perbarel sehingga kalau minyak oplosan itu diterima oleh Pertamina maka ada potensi kerugian sebesar USD 120 juta,” paparnya.

Bila dikatakan pada awal proses pemilihan minyak oplosan Sarir dengan Mesla berdasarkan kajian Direktorat Pengolahan dengan menggunakan perangkat lunak linier program GRTMPS, maka patut diduga, kata Yusri, mengandung keanehan dan bertentangan dengan prinsip yang sudah baku dilakukan oleh ISC dengan cara Crude Oil Management System (COMS), yang melarang impor minyak mentah yang dicampur di kapal dan akan mengandung risiko aspek kualitas dan kuantitasnya.

Dia menuturkan percampuran minyak mentah dari berbagai sumber adalah tugas dan tanggung jawab kilang Pertamina yang dikenal dengan produk cocktail crude, dan digunakan komposisinya sebagai bahan baku kilang sesuai dengan program produk bahan bakar minyak (BBM) yang akan diproduksi dan dengan mempertimbangkan kehandalan kilang Pertamina.

Anehnya lagi, imbuh Yusri, minyak sarir ini sudah sangat lama tidak digunakan oleh kilang Pertamina. “Awalnya dimulai pada akhir September 2006 sesuai surat Pertamina Nomor 2252/E20200/ 2006- SO tanggal 31 Agustus 2006 atas rekomendasi kilang dan temuan audit BPK RI bahwa mengolah minyak Sarir di kilang telah menghasilkan residu yang amat besar, sehingga untuk mengolah residu menjadi Low Sulfur Waxy Residue (LSWR) dibutuhkan ADO (Automotive Diesel Oil ) yang lebih banyak dan harganya sangat tinggi,” papar Yusri. Dengan kata lain, minyak sarir dinilai tidak ekonomis.

Menurut pemaparan Yusri, bila mau sedikit merunut ke belakang (sejak 2004 hingga kini dengan melihat pejabat-pejabat yang pernah duduk di Petral dan ISC) maka kasus "minyak bodong Glencore" bisa menjadi biasa bagi pejabat Pertamina saat ini. “Karena seperti hal mengulang kasus yang lama dengan orangnya ya itu itu juga sih. Hanya sedikit berganti kulit, bermetamorfosis saja,” cetusnya. (Sofyan)
Share this post :
Comments
0 Comments

Post a Comment

www.indopetronews.com

 
Support : Web Master | Indokarmed | Web Hosting
Copyright © 2013. indoPetroNews - All Rights Reserved
Web Design Web Master Published Media Patner by Jurnalis Rakyat
Proudly powered by Portal Login